Aksi Brutal Militer Myanmar, Puluhan Pengunjuk Rasa Ditembak Mati


Deng Jia Xi tewas ditembak militer Myanmar saat demo menentang kudeta militer kemarin


Naypyitaw, NasionalEditor.com - Deng Jia Xi, seorang remaja 19 tahun tewas terkena tembakan militer Myanmar pada unjuk rasa yang berlangsung Rabu, (03/04) kemarin. Deng Jia Xi ikut berunjuk rasa bersama demonstran lainnya dalam menyerukan pembebasan pemimpin terpilih dan menolak kudeta militer.


Dalam foto yang beredar, tampak korban mengenakan kaos warna hitam bertuliskan “everything will be ok” semua akan baik-baik saja, menjadi pemantik semangat dalam unjuk rasanya. Sebelum turun ke jalan bersama pengunjuk rasanya lainnya, Deng Jia Xi juga menulis surat agar organnya didonasikan. Surat tersebut menggambarkan suasana genting di negeri seribu pagoda tersebut.


Konflik di Myanmar terus berlanjut sejak kudeta militer pada 01 Februari 2021 lalu. Sikap refresif militer terhadap demonstran telah menelan banyak korban. Menurut Myanmar Now setidaknya 38 orang pengunjuk rasa telah terbunuh di Yangon, Mandalay, Monywa, Myingyan dan kota-kota lain tulis Myanmar Now di akun Twitternya, Kamis (04/03). Media berbahasa Inggris tersebut menambahkan, meskipun demikian pengunjuk rasa, termasuk banyak dokter turun kejalan lagi di Mandalay.


Sebelumnya seorang pengunjuk rasa mengatakan, militer tidak memberikan peringatan apapun untuk membubarkan pengunjuk rasa.


“Mereka tidak menyemprot kami dengan meriam air, peringatan agar bubar, mereka hanya menembakkan senjata,” ungkapnya kepada Reuters.


Kejadian serupa di laporkan oleh seorang pengunjuk rasa kepada BBC, bahwa militer tidak segan menggunakan peluru tajam terhadap warga sipil tanpa peringatan sebelumnya.

“Saya kira sekitar jam 10 pagi atau 10:30, polisi dan tentara datang ke daerah itu dan kemudian mereka mulai menembak warga sipil. Mereka tidak memberikan peringatan apapun kepada warga sipil.


“Mereka baru saja keluar dan mulai menembak. Mereka menggunakan peluru karet tetapi mereka juga menggunakan peluru tajam untuk membunuh warga sipil degan cara kekerasan.” Sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (04/03).


Sementara itu, dalam jumpa pers virtual, Selasa (02/03) Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Retno Marsudi meminta Myanmar membuka pintu dalam upaya mencari penyelesaian di negara itu. Ia menegaskan, keterlibatan dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di Myanmar bukan berarti mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Menurutnya tidak ada negara ASEAN yang melanggar prinsip non-interference atau tidak campur tangan . Namun, Ia mengingatkan bahwa menjalankan nilai yang ada dalam Piagam ASEAN lainnya tidak kalah penting.


“Menghormati prinsip non-interferenc, tidak campur tangan dalah wajib. Dan dalam pernyataan tadi saya sampaikan bahwa saya yakin tidak ada satupun negara anggota ASEAN yang memiliki intensi untuk melanggar prinsip non-interperence. Namun demikian, pada saat yang sama, menghormati dan menjalankan prinsip dan nilai lain dalam piagam ASEAN, termasuk demokrasi, penghormatan terhadap hak asasi manusia adalah sama pentingnya. Saya ulangi, sama pentingnya,” tambahnya.

28 views0 comments

Subscribe untuk tetap mendapatkan update dari kami

  • White Facebook Icon

©2020 Copyright Nasional Editor -  Design & Development by DX ProDigital