Ampenan Nol Kilo Meter

Bekas-bekas tempat yang dulunya posisi nol kilometer Ampenan itu nyaris tak ada lagi. Sekali waktu, jika musim durian tiba, orang-orang ramai berkunjung. Mereka datang membeli durian. Tetapi sebagian besar tak tahu, di situ letak terminal pertama di Pulau Lombok.

Sampai sekarang saya belum menemukan foto terminal yang masih beroperasi hingga awal tahun 1970an itu. Tempat publik yang sejak dini hari sudah mulai hidup. Dari sini para penumpang memilih kendaraan umum yang menuju ke beberapa jurusan, ke Lombok Timur, Lombok Utara, atau Lombok Tengah. Dari tempat ini pula berbagai jenis barang kebutuhan dikirim ke sejumlah tempat.

Hampir di semua bis di terminal itu terpampang tulisan peringatan "dilarang mengeluarkan anggota badan" dan "dilarang bicara dengan sopir". Sebenarnya kendaraan-kendaraan yang dikatakan bis itu, aslinya truk yang dimodifikasi. Bodi, lantai, dan kursinya banyak menggunakan bahan dari kayu.

Ada sebuah bis paling terkenal saat itu. Namanya Perusahaan Oto (PO) Abad. Tujuannya terminal Pancor, Lombok Timur. Penumpang memilih bis ini, walaupun tidak mesti sampai ke Pancor. Ada yang turun di Mantang, Kopang, Terara, atau Masbagik. "Saya harus bangun subuh supaya dapat tempat duduk. Bis itu jalan jam tujuh," kenang Hasan, seorang guru senior di Ampenan.

Sepagi itu ia sudah berada di atas kendaraan. Ia tiba di tempat tujuannya di Kopang sehabis dhuhur. Artinya, jarak 30an kilometer Ampenan-Kopang butuh waktu tujuh jam! Mengapa begitu lama?

"Sepanjang jalan selalu ada penumpang dan barang-barang yang diturunkan. Belum lagi problem mesin bis yang selalu macet, itu yang bikin lama," tuturnya.

Di setiap kendaraan berhenti itulah selalu terdengar caci-maki sopir. Ia memarahi kondekturnya yang tidak cermat saat menyusun barang di atap kendaraan. Barang-barang yang mestinya diletakkan paling bawah karena tujuannya lebih jauh, berada di bagian paling atas. Sehingga selalu terjadi penyusunan ulang barang-barang setelah salah satunya diturunkan.

Dari terminal kondektur telah menyiapkan ember besar berisi air untuk menjaga mesin tidak panas. Air itu berkali-kali kali dituang ke radiator, sehingga bis pun selalu berhenti setiap sekian kilometer melaju.

Hanya seorang sopir yang bisa bicara semaunya. Tidak pernah ada kata-kata baik yang diterima kernet. Maklum, sopir di masa itu profesi yang sangat prestisius. Tidak gampang menjadi seorang sopir yang bisa dipercaya. Bertahun-tahun mesti menapak karier, mulai dari jabatan kondektur, sambil terus-menerus belajar memperbaiki mesin. Sehingga, sopir juga mesti memiliki kemampuan seperti seorang mekanik, yang akan mengatasi sendiri kendaraan yang dikemudikannya. Di mana pula ada bengkel buka di masa itu? Setelah itu baru mengajukan rebewes. Mengurus rebewes atau SIM jadul ini juga bukan perkara gampang.

Tak heran jika penghasilan yang diperoleh sopir bahkan bisa lebih besar dibanding pemilik kendaraan sendiri. Dengan kesejahteraan yang memadai itu, tak jarang seorang pengemudi memiliki lebih dari satu istri.

Saking kerennya posisi sopir, saat dalam perjalanan pun teman duduknya bukan penumpang sembarangan. Jangan coba-coba duduk di samping sopir jika Anda tak merasa cantik. Yang mengatur itu juga bagian dari tugas asisten alias kernet. Dialah yang menyeleksi wanita paling cantik yang layak duduk di kursi bis paling depan.

Saya sempat turun dan menghirup udara di sekitar nol kilometer Ampenan, sore tadi. Sayang langit mendung tebal, sehingga mempengaruhi hasil pemotretan saya. Sambil menjepret saya membayangkan diri sebagai seorang sopir di tahun 70an. Di samping saya duduk seorang perempuan jelita, yang mungkin bakal jadi bini saya yang ke dua, ke tiga, atau ke empat!

2 views1 comment