Bajingan Ampenan

Updated: Dec 15, 2020

Saya lulus testing masuk SPMAN Mataram pada 1987. Tentu saja itu sangat membanggakan.



Para calon peserta didik dari Kecamatan Alas, Sumbawa, tempat kelahiran saya, yang telah mengikuti testing, hanya diterima tujuh orang.


Di Sumbawa, minat para orangtua menyekolahkan anak di program pendidikan kejuruan sejak dulu sangat tinggi. Namun sekolah-sekolah itu belum banyak tersedia, sehingga sejak tamat SMP, banyak pelajar melanjutkan pendidikan ke Mataram. Sebab di kota inilah wilayah terdekat tempat sejumlah sekolah kejuruan didirikan. Mulai dari kejuruan pertanian, pendidikan keguruan, calon guru olah raga, hingga sekolah keperawatan.


Tetapi bukan hanya itu alasan saya bersekolah di Mataram. Saya ingin ketika pulang kampung nantinya saya tidak lagi terkesan sebagai anak kampung. Tapi sebagai orang kota yang terpelajar.


Untuk mendapat legitimasi atau predikat sebagai orang kota itu, tidak hanya dinilai dari penampilan, tapi juga dari logat bicara.


Orang Alas dan Sumbawa pada umumnya, jika mengucap kata berunsur huruf "u" terdengar seperti "i".


Seorang teman saya dari Pernang, sekarang menjadi wilayah Buer setelah Alas dimekarkan menjadi tiga kecamatan, pernah diinterogasi teman-teman sekelas yang kebanyakan dari etnis Sasak, Lombok.


"Hei, kok kamu panggil bu guru bibi. Emangnya dia bibimu?"


Ia diberondong pertanyaan setelah jam istirahat. Tadi, di dalam kelas, saat mengikuti pelajaran bahasa Inggris, ia sempat mengacungkan tangan. Berkali-kali ia mengucap "ibi" saat bertanya pada guru wanita yang sedang mengajar bidang studi itu, yang sebenarnya ingin menyebut ibu.


Lidah Samawa juga sering terbalik ketika mengucap kata yang berakhir dengan vokal dan huruf "h". Misalnya lemah, dilafalkan lema. Sedangkan ceria diucap atau ditulis ceriah.


Semua itu mesti berubah setelah kembali ke kampung. Dan bukan saya sendirian yang berusaha mengubah dialek menjadi ala ibu kota provinsi. Kami yang di kampung sering menyerukan "aida", kini membiasakan diri mengucap "la", "lasingan", "yaok", dan lainnya.


Saya sendiri, sejak di Alas, cukup mengerti dan fasih berkomunikasi dalam bahasa Sasak dengan sub dialek Lombok Timur. Sebab ibu saya dari Kelayu, dan saya tinggal di pemukiman yang sebagian besar dihuni pendatang dari Apitaik dan Pancor. Saya tidak kesulitan untuk menyerap kosa kata varian Mataram termasuk intonasinya, karena tidak jauh berbeda. Tetapi itu belum lengkap. Saya mesti menyempurnakannya dengan perbendahaan kata dan gaya komunikasi Sasak sub dialek Ampenan. Misalnya menyelipkan kata-kata, mulai dari "ana", "ente", "harem", "hep", "kul", sampai "jahanam" serta makian dan sumpah serapah yang biasa terdengar di wilayah bekas pelabuhan internasional itu.


Sedangkan ihwal penampilan, seluruh celana panjang saya perkecil di bagian kaki. Sangat ketat, sampai harus menggunakan plastik pembungkus saat memakai atau membukanya. Waktu itu belum ada istilah celana pensil. Perkara mengecilkan celana ini entah sudah berapa kali saya mendapat teguran dari guru BP. Bawah celana saat diterima dari sekolah tak kurang dari 20 centimeter, saya rombak menjadi 13 centimeter. Nilai kepribadian saya anjlok gara-gara itu. Tapi saya tidak peduli. Yang penting stil, Hep! Stil menjadi salah satu kota kata gaul di tahun 80an. Kata "keren" belum lazim diucapkan saat itu.


Jika celana ukurannya sempit, maka ukuran baju kebalikan dari itu. Pakaian atas mesti longgar dan panjang, mirip tunik, busana wanita jaman now. Ada dua saku lengkap dengan tutupnya di bagian depan, dilengkapi aksesoris yang mirip sumbu kompor minyak tanah.


Saya memiliki dua helai hem kombor tren akhir 80an itu. Ketika pulang ke Alas, baju itu menjadi rebutan. Dipinjam berkali-kali, dan salah satunya tak kembali.


"Jadah! Ntar malam ente-ente ngumpul di rumah ana, Hep," undang saya ketika mudik, setelah beberapa bulan tinggal di Mataram.


Kawan-kawan menatap saya dengan berbinar-binar. "Kamu sekarang benar-benar seperti bajingan Ampenan," ungkap seseorang.


Dikatakan bajingan saya justru begitu bangga. Apa pun yang berbau Ampenan saat itu menjadi ukuran gengsi. Jangankan untuk predikat yang positif, sesuatu yang sebenarnya kurang terpuji pun, asal ada embel-embel Ampenan, akan dianggap gaul. Sebut saja seseorang yang mengemudikan sepeda motor dengan kecepatan tinggi dan biang onar di jalanan, akan mendapat julukan sebagai pembalap Ampenan. Ketika seseorang jago berkelahi, ia akan mendapat anugerah lagi sebagai jagoan Ampenan. Seorang pecandu nikotin dikatakan pemadat Ampenan. Di masanya, Ampenan itu gaul dan stil, Hep! (Buyung Sutan Muhlis)

41 views1 comment