Bangsa Jin di Belantara Pulau Moyo

Nieuwsblad van Friesland, koran berbahasa Belanda, mengirim salah seorang jurnalisnya ke Tana Samawa, di tahun 1913. AV, demikian inisial pewarta itu, juga berkunjung ke pulau-pulau terpencil di perairan Sumbawa.


"Di Sumbawa terdapat beberapa pulau kecil. Yang terbesar adalah Pulau Moyo, dengan jarak tempuh sekitar 5 jam berlayar dari Labuhan Sumbawa. Pulau yang lebih kecil adalah Pulau Liang dan Ngali," tulis AV di salah satu episode catatan perjalanannya berjudul Mijn Reis Naar en op Soembawa (Perjalanan Saya ke Sumbawa) yang dimuat pada 27 Agustus 1913.

Di Pulau Liang dan Ngali yang sama-sama berada di Teluk Saleh itu, kata AV, banyak ditemukan kuda. Hewan-hewan ini milik penduduk di Pulau Sumbawa. "Ketika hampir tidak ada rumput tersisa di Sumbawa, mereka membawa sebagian ternaknya ke sana dengan rakit atau perahu," ujarnya.


Di Pulau Moyo juga banyak kuda, bahkan keadaannya jauh lebih baik. Di pulau ini, saat itu tercatat populasi sekitar 3.000 kuda yang hidup di alam bebas. Selain itu Pulau Moyo juga tempat hidup ribuan sapi liar, dan tak terhitung jumlah babi hutan dan rusa.


Sapi-sapi itu awalnya hanya beberapa ekor saja. Saat itu Sultan Sumbawa mendatangkan beberapa ekor sapi betina dan seekor lembu jantan dari Bali. Persilangan dua ras hewan itulah yang menghasilkan sapi-sapi Sumbawa yang memiliki bobot mencapai 600 kilogram. Bandingkan dengan kondisi sapi Sumbawa saat ini. Untuk mendapatkan sapi dengan berat 300 kilogram saja relatif tak mudah, walaupun sampai saat ini hewan-hewan itu sebagian besar juga hidup secara alamiah atau dibiarkan liar.


Wartawan itu begitu girang ketika ia diajak berburu rusa ke Pulau Moyo. Ia ditemani seorang letnan Belanda, seorang pengusaha etnis Arab, dua orang pemandu pribumi, dan seorang lagi dari etnis Cina sebagai juru foto. "Masing-masing membawa satu jarum suntik," katanya, tapi tak menjelaskan kegunaan benda itu.


Tim berburu itu berangkat pagi-pagi dengan perbekalan secukupnya, pada 29 Mei 1913 dari Labuhan Sumbawa. Mereka menyewa sebuah perahu layar dari seorang pedagang asal Bima.

Pulau Moyo saat itu hanya dihuni beberapa kepala keluarga. Hanya ada lima rumah berdiri di sana. Beberapa warga penghuni pulau itu menemui rombongan pemburu, memberi tahu keadaaan belantara Pulau Moyo yang masih liar. Saat itu masih sering turun hujan, sehingga hewan-hewan yang diburu lebih memilih berada di puncak pegunungan, menghindari air yang berlebihan di dataran yang lebih rendah. Sementara bukit-bukit itu sangat sulit dijangkau.


Mereka mendirikan bivak atau semacam perkemahan di tengah belantara. Di hari pertama itu, AV berhasil menembak seekor rusa jantan, dengan sepucuk karabin winohester. "Binatang itu terkena di pinggul, dan peluru itu memiliki efek yang membuat seluruh kakinya terkelupas. Pemandu segera bertindak. Hewan itu ia sembelih menggunakan parangnya," tutur AV.


Pada perburuan di hari ke dua, dari tempat persembunyiannya ia melihat seekor rusa betina yang sangat menarik. "Hewan itu mendatangiku, ia melewati semak-semak. Aku sudah siap menunggunya datang dengan todongan senjata. Seekor rusa yang cantik. Seolah-olah dia ingin memberiku kesempatan untuk menembaknya dengan mudah. Dia berhenti sekitar tiga puluh meter jauhnya," lanjutnya.


Jari telunjuknya telah menempel di pelatuk karabin. Tetapi ia belum juga menekan pelatuk itu. Ia terkesima. Induk rusa itu diikuti seekor rusa yang muda, kemungkinan anaknya. "Ia meloncat-loncat dengan riang, sesekali menyentuh induknya," kata jurnalis itu.

Ia baru sadar setelah rusa-rusa itu meninggalkan tempat. Keterpesonaannya melewatkan kesempatan yang baik itu. Ia juga tersadar telah jauh meninggalkan bivak, sementara hari semakin gelap. Berdua dengan pemandunya, sama-sama kebingungan, apakah harus maju, mundur, atau berbelok. Mereka tersesat di hutan itu.


Mereka berjalan dengan terhuyung dan terantuk-antuk di kerapatan belukar dan pepohonan. Medan yang demikian sulit. Beberapa kali mereka berpapasan dengan babi hutan.

Saat itulah terdengar teriakan keras seseorang. "Kembali, Tuan. Kembali. Kita berada di tempat yang salah!"

Ia salah satu anggota rombongan. Ia memberitahu, tak jauh dari tempat mereka saat itu terdapat jurang yang sangat dalam. Berkali-kali ia menyebut nama Tuhan yang telah menyelamatkan mereka. "Saya tadi melihat jin hutan. Besok kita jangan berburu lagi terlalu lama, Tuan," ucapnya.


Lelaki itu menceritakan belantara Pulau Moyo yang sering meminta korban. Bangsa jin dan roh hutan tanpa disadari menggiring para pemburu ke tepi jurang. Tahu-tahu tubuh sudah terjatuh ke dasar jurang dan tewas seketika.

Akhirnya AV dan kawan-kawan menemukan jalan setapak yang mengarah ke bivak mereka. Malam telah larut.

0 views0 comments

Subscribe untuk tetap mendapatkan update dari kami

  • White Facebook Icon

©2020 Copyright Nasional Editor -  Design & Development by DX ProDigital