• Muslifa Aseani

Bisnis Baru Paket Wisata Voluntourism Lombok

Konsep Voluntourism sudah diresmikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada Agustus 2020. Rilis dilakukan pada Seminar Daring bertajuk ‘New Normal Stage’, tepatnya Jumat 28 Agustus tahun lalu.


Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events), Rizki Handayani, menyebutkan Voluntourism bisa menjadi magnet baru bagi para millenials yang hobi travelling. Ia menyatakan, Voluntourism menjadi tren baru anak-anak muda berwisata. Dimana mereka tak lagi sekadar menikmati destinasi, namun melakukan karya nyata. Diantaranya, aksi bersih pantai, mengajar kreatif atau aktivitas volunteering lainnya.


Masih menurut Rizki, aktivitas voluntourism juga lekat dengan penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE (cleanliness, health, safety, and environmental sustainability). Harapan yang sejatinya juga diterapkan pula di Lombok, utamanya di spot-spot yang terbuka untuk didatangi sebagai destinasi voluntourism.


Ini Dia Spot Atau Destinasi Voluntourism di Lombok


Rifki Feriandi, penulis buku Cara Narsis Bisa Nulis dan juga seorang wisatawan pencinta wisata petualangan, menawarkan dua terminology terkait voluntourism. Dalam diskusi melalui chat WA, Rifki menyebutkan ‘Volunteer berwisata’ dan ‘Wisatawan bervolunteer’. Rifki sendiri lebih menyukai term kedua, menimbang pengalaman pribadinya saat mendaki Gunung Rinjani di tahun 2016 dulu. Ia memilih datang ke Lombok sehari sebelum waktu mendaki, dan melakukan sharing di kampus Fisipol Universitas Mataram dan Madrasah Alam Sayang Ibu (saat ini menjadi Pesantren Alam Sayang Ibu-PAMSI).


Rifki membagikan pengalaman uniknya, belajar menulis saat purnatugas dari karirnya sebagai eksekutif di salah satu perusahaan dan mulai belajar menulis ringan di portal Kompasiana. Aktivitas menulis yang melahirkan buku tunggal pertamanya, Cara Narsis Bisa Nulis.


Di Lombok sendiri, dua term di atas sudah cukup familiar. Salah satu contohnya, kegiatan Komunitas 1000 Guru. Dimana, usai volunteering, para relawan diajak mengunjungi salah satu destinasi wisata di Lombok. Penggambaran sederhana dari ‘volunteer berwisata’.


Jadwal volunteering di Chili House yang banyak ragam. Cred. Tim Chili House

Contoh lainnya, bahkan baru saja lahir, Chili House Community (CHC). Komunitas ini lahir dari gagasan Noor Ain Hussein, seorang hotelier di Gili Air, yang mengajak anak-anak dan para ibu di sekitarnya belajar banyak hal kreatif. Ain mendasari konsep volunteeringnya pada tiga bangunan terpisah yang dikelolanya. MAC, singkatan dari Mari, Aku dan Chili House. Mari House fokus pada peserta ibu-ibu beserta karya kreatifnya, Aku sebagai Bed & Breakfast (alternatif pendanaan dari aktivitas di CHC), serta Chili sebagai pusat kegiatan dari sekitar 30 anak-anak. Anak-anak ini mulai dari usia 5 tahun sampai belasan tahun.


Program volunteering di CHC berkolaborasi dengan Kitapixel Digital Mandiri Coop (baca: Kitapixel Lombok), satu koperasi digital pertama di Lombok. Kitapixel Lombok membantu meng-arrange para relawan Chili House. Relawannya sendiri, berasal dari berbagai komunitas, sejalan dengan ide Ain, bahwa CHC adalah ‘A Center Built By Community to Community’.


Gili Air dengan CHC, Rinjani dan Rumah Baca Sembalun, dua contoh destinasi dari banyak pilihan destinasi voluntourism Lombok lainnya. Destinasi seperti desa atau dusun adat, sentra-sentra kerajinan baik tenun, perak atau yang lainnya, juga terbuka menjadi tujuan dari paket wisata baru ini.


Kolaborasi Voluntourism dengan Entitas Pendidikan Alternatif


Ahmad Junaidi, founder Jage Kestare Foundation (JKF) menegaskan Pendidikan Alternatif tidak bisa dikategorikan sebagai bagian dari voluntourism. Namun, ia terbuka pada kolaborasi kedatangan para relawan di JKF. Baik untuk membagikan pengetahuan yang dikuasai para volunteer, atau jika misalnya sekaligus belajar bersama mengenai kerajinan perak. Sebagian besar peserta didik di JKF, adalah anak-anak dari keluarga yang juga perajin perak di Desa Ungge.


Diskusi dengan Junet (panggilan akrab Ahamd Junaidi), juga di chat WA, sekitar sepekan setelah penulis mengikuti event online yang digagasnya. Yakni, Zoom Simposium Relawan Pendidikan Lombok di tajuk Diskusi Praktik Baik Sekolah Alternatif Indonesia, Kamis (4/3/2021).


Juned memberikan pengantar sebelum para narsum membagikan slide presentasinya. SS Zoom

"Usai pandemi, kami terbuka dengan kedatangan para relawan," demikian sebagian dari pernyataannya di sela diskusi via chat WA.


Sentra perak Desa Ungge berada di Lombok Tengah. Masih di kabupaten dari lokasi sirkuit MotoGP ini, ada pula Eco School Nusantara (ESN). Beragam jenis dan konsep dari pendidikan alternatif seperti JKF dan ESN, juga relatif sudah eksis di empat kabupaten se Pulau Lombok. Di Lombok Barat, terdapat Kids of Asahan dan Bale Ade.


Voluntourism Lombok Aktivitasnya Apa Saja?

Voluntourism sejatinya bisa pula menerapkan konsep pentahelix kepariwisataan. Namun, secara umum, bentuk-bentuk aktivitas volunteering yang bisa dilakukan di Lombok, diantaranya;


Pertama, penguatan softskill dari para peserta atau anggota dari masing-masing lokasi. Misal, penguasaan bahasa asing atau keterampilan-keterampilan dasar. Keterampilan dasar ini pun masih bisa dikerucutkan lagi sesuai kebutuhan prioritas dari lokasi volunteering. Misal, jika lokasi berada di destinasi wisata, keterampilan mengolah kuliner, packaging serta pemasarannya bisa menjadi materi volunteer.


Kedua, meningkatkan pengetahuan yang sebelumnya sudah dimiliki. Contoh, di beberapa lokasi yang dekat dengan destinasi wisata terkenal, anak-anak sudah terbiasa dengan aktivitas kepariwisataan. Pengetahuan mereka bisa ditingkatkan dengan kemampuan personal memandu tamu wisata. Bahkan, membuat sendiri paket-paket wisata.


Ketiga, membangun jejaring nasional dan internasional. Masih mengambil contoh dari event online diskusi pendidikan alternatif di atas, jaringan mereka sudah terbangun nasional dan internasional. Narsum diskusi diantaranya Butet Manurung dari Sokola Institut, ada pula Ubaidillah dari Sekolah Alam Jogja, serta Mathavi dari Yayasan Chow Kit Malaysia.



Butet Manurung dan Sokola Institute, pioneer dari sekolah alternatif di Indonesia. SS Zoom

Pada dua term 'volunteer berwisata' atau 'wisatawan bervolunteer', para relawannya bisa terbuka dan berasal dari seluruh negara di dunia. Potensi yang linear dari aktivitas utama, yaitu sisi tourism-nya.


Potensi Bisnis Paket Wisata Voluntourism Lombok


Sekarang, sembari masih di euforia menanti event dunia MotoGP, pelaku wisata masih ada kesempatan mengembangkan paket-paket wisata voluntourism. Beberapa destinasi wisata terkenal Lombok, ternyata telah terbuka dengan aktivitas social tourism ini. Kembali ke pembuka tulisan di atas, aktivitas volunteer bisa menjadi alternatif berwisata. Latar belakang volunteer pun jadi semakin beragam, sehingga pada gilirannya, pengetahuan-pengetahuan yang dibagikan bisa lebih kaya.


Jika keragaman latar belakang profesi para volunteer disinergikan dengan konsep-konsep dari entitas Pendidikan Alternatif atau juga Desa Wisata, paket wisata ini bisa menjadi celah bisnis baru. Bukan tidak mungkin bisa eksis menjadi satu paket wisata yang bisa dijual untuk waktu yang lama. Atau, sustainable tourism.


Recent Posts

See All