Honor Jurnalis

Sebelum Abu Rizal Bakrie berinvestasi di Harian Umum Nusa Tenggara, terbitan Bali, saya sempat bergabung dengan koran ini selama beberapa tahun di awal 1990an. Harian dengan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) atas nama Kodam IX Udayana ini telah beberapa kali berganti manajemen.



Hingga tahun 1990, Nusa Tenggara masih hitam-putih dengan format broadsheet 29,5 X 23,5 inci. Setahun kemudian berubah format menjadi tabloid berwarna di halaman depan dan belakang, ketika koran ini dalam penanganan Media Indonesia Grup, pimpinan Surya Paloh. Terbit setiap hari, kecuali Hari Minggu dan tanggal merah, dalam dua edisi, yaitu bahasa Indonesia dan Inggris.


Kantor redaksi koran ini berada di Jalan Raya Sanur Nomor 110 Denpasar.

Saya tidak pernah mengajukan surat lamaran untuk menjadi wartawan media ini. Awalnya saya mencoba mengirim features yang langsung dimuat. Sejak itu saya secara rutin mengirim karya jurnalistik, baik naskah berita maupun foto.


Ada empat wartawan Nusa Tenggara yang meliput di Mataram saat itu, yaitu Ketut Narwadha, Parthu Rendra, Addus Syukur, dan saya yang paling yunior.

Dokumentasi pers hasil liputan kami kirim melalui jasa pos. Dikirim hari ini baru sampai di redaksi keesokan harinya. Praktis, hampir semua laporan dari luar Bali baru termuat selang sehari setelah terkirim. Tapi itu termasuk cepat, karena di NTB sendiri saat itu belum ada harian lokal -- Harian Suara Nusa baru terbit di tahun 1992.


Sedangkan koran-koran nasional yang umumnya terbit di Jakarta, memuat berita dari para koresponden NTB bisa lebih dari tiga hari sejak peliputan. Jelas, tulisan-tulisan itu adalah berita basi! Tetapi, tidak pernah ada yang mempersoalkan keterlambatan pemuatan itu. Hanya koran yang berlangganan bulletin Kantor Berita Antara yang bisa memuat peristiwa hari ini pada keesokan harinya. Sebab Antara memiliki fasilitas jaringan teleks.


Saat itu di Mataram sudah mulai ada perangkat faksimili. Berkas laporan dikirim melalui kantor Telkom. Tapi biayanya sangat mahal. Selembar kwarto hasil ketikan harganya Rp 3.500. Masalahnya, kantor redaksi kami tidak menanggung biaya pengiriman. Sementara satu tulisan jenis straight news yang paling umum produk para reporter dan koresponden, hanya dihargakan Rp 2.500 per berita. Siapa yang mau tekor?


"Dulu honor berita diukur dengan benang. Semakin panjang benang setelah pengukuran tulisan yang dimuat itu, semakin tinggi bayarannya," kata R Soesantyo DA, seorang wartawan senior yang pernah bergabung dengan Nusa Tenggara di tahun 1980an.

Para koresponden tidak mendapat gaji, tapi diberi honorarium setiap bulan yang dinilai berdasarkan jumlah karya jurnalistik yang termuat. Imbalan wartawan itu dikirim melalui weselpos. Rendahnya honor berita itu membuat saya mencari alternatif lain bagaimana mendapatkan penghasilan bulanan yang memadai.


Wartawan Nusa Tenggara yang paling produktif saat itu adalah Ketut Narwadha. Ia sudah sangat senior. Rambutnya hampir seluruhnya putih.

Narwadha tinggal di Gang Massa, Pajang. Dia mulai mengetik berita sejak usai maghrib. Dia bekerja seperti iblis, seolah tak mengenal letih. Sehari ia bisa membuat laporan jurnalistik mencapai 12 naskah berita. Tak heran jika honorariumnya berkisar antara Rp 250 ribu sampai 300 ribu rupiah setiap bulannya. Bandingkan dengan gaji seorang guru saat itu yang belum mencapai Rp 100 ribu.


Saya benar-benar iri. Saya bertekad mengalahkan penghasilan Narwadha. Tetapi saya tak mau menyiksa diri seperti itu. Bisa habis waktu saya hanya untuk aktifitas jurnalistik. Saya masih bujang. Jika ikut cara kerja Narwadha, kapan saya punya waktu mengunjungi pacar?

Di luar straight news, ada imbalan yang nilainya lebih tinggi, di antaranya foto, laporan berseri, dan artikel. Honor sebuah foto Rp 5.000, atau dua kali lipat daripada imbalan satu berita. Tentu saja bukan foto seremonial atau pengantin yang sedang duduk di pelaminan.


Foto-foto yang diterima redaksi antara lain bertema kebudayaan, human interest, olah raga, kesenian, dan pariwisata. Sedangkan laporan bersambung satu edisi nilainya Rp 15.000, sama dengan satu artikel atau opini.


Saya punya kamera pocket, pinjaman dari seorang kawan. Saya mulai mengalkulasi. Satu rol film berisi 36 kali pengambilan ditambah bonus dua kali, harganya Rp 5.000. Jika saya menghasilkan 50 foto saja per bulan itu nilainya Rp Rp 250 ribu. Kurangi modal dua rol film ditambah biaya cuci cetak hitam-putih, sekitar Rp 50 ribu, saya mendapat penghasilan bersih Rp 200 ribu. Itu baru dari foto. Saya lalu menargetkan setidaknya 10 tulisan baik artikel atau laporan berseri. Nilainya Rp 150 ribu.


Rencana itu benar-benar saya laksanakan seketika. Sebulan kemudian, honorarium saya melampaui penghasilan Narwadha. Dan kemenangan saya lainnya, saya memiliki lebih banyak waktu luang.

Tak lama setelah peristiwa Santa Cruz, Dili, Harian Nusa Tenggara kembali ke format awal, ukuran surat kabar konvensional. Bedanya, koran itu berwarna, di halaman depan dan belakang.


Tetapi tidak sampai setahun kemudian, Nusa Tenggara tiba-tiba berhenti terbit. Tetapi masyarakat di NTB tidak terlalu kehilangan, sebab hampir bersamaan dengan itu Harian Suara Nusa yang tadinya tabloid berkala, mulai terbit harian.

Tidak terbitnya koran itu tentu saja sangat terasa bagi saya yang sudah cukup nyaman dengan irama kerja dan pendapatan yang saya peroleh. Setelah setahun tiada kabar kapan terbit kembali, saya akhirnya diterima sebagai jurnalis Surabaya Minggu.


Nusa Tenggara kembali terbit sekitar tahun 1997. Pemodalnya Abu Rizal Bakrie, saat itu masih Ketua Kadin. Perubahan manajemen itu juga mengubah jajaran redaksi dan perusahaan Nusa Tenggara. Hampir seluruh karyawan dan wartawan lama di koran ini tidak dipakai lagi. Ical menggandeng para kru Majalah Tempo yang baru saja dibreidel rezim Soeharto.


Tetapi, koran itu hanya beberapa tahun eksis. Saya sering berseloroh, nama Nusa Tenggara itu kurang hoki. Entah sudah berapa kali berganti pengelola, nasibnya selalu sama. Koran itu raib seolah ditelan bumi beberapa tahun setelah orde baru binasa. (Buyung Sutan Muhlis)

4 views0 comments