Ijin Jepret

Beberapa tahun lalu Askar DG KAMIS, pendiri LtripX mengajak saya menemaninya mendampingi beberapa bule di Desa Labuhan Burung, Buer, Sumbawa. Mereka bukan wisatawan. Salah seorang diantaranya wanita fotografer.

Dia diutus sebuah perusahaan pemasar pariwisata di Amerika Serikat yang sedang bekerja sama dengan program Rural Community Based Tourism (RCBT) yang digagas Askar di Labuhan Burung.


Ada beberapa hal menarik yang akan saya ceritakan tentang wanita ini. Dia seorang gadis yang vegetarian. Rambutnya ikal merah. Tubuhnya agak gemuk. Ia membawa dua unit kamera yang bikin saya ngiler. Satu unitnya saja nilainya sama dengan sebuah mobil gres.


Sejak awal kedatangannya ke desa itu, berkali-kali saya mencoba mendokumentasinya. Tetapi belum sempat menjepret, ia sudah bergeser dari titik bidik. Saya penasaran dan kembali mencoba. Sama. Dia selalu menghindari bidikan kamera, sampai keesokan harinya Askar membisiki saya, "Dia tidak mau dipotret, Yung! Barusan dia ngomong itu pada saya."


Setelah itu saya tidak pernah berusaha memotretnya lagi. Ternyata ia seorang fotografer yang justru tidak suka ketika dirinya sendiri dipotret orang. Tetapi bukan itu yang menjadi inti masalah. Penolakan wanita itu mengingatkan saya tentang privacy. Sebuah sisi yang sering diabaikan banyak orang. Setiap manusia di muka bumi punya hak yang tak bisa diganggu gugat menyangkut urusan personal, termasuk produksi dan publikasi potret diri.


Bukan sekali itu saya ditolak orang saat hendak mengambil foto. Suatu sore saya bertemu seorang pria separuh baya, kebetulan juga berasal dari Amerika. Ia mengaku seorang jurnalis yang sudah cukup lama berada di Lombok. Pertemuan yang cukup berkesan. Baru berkenalan kami sudah begitu akrab. Tetapi ketika saya minta ijin berfoto bersama, dia menolak secara halus yang membuat saya tertegun. "Setiap difoto saya harus minta ijin dulu kepada anak dan istri saya," ujarnya.


Kembali ke wanita bule di Labuhan Burung.

Selama dua hari mendampinginya, kami cukup kerepotan. Bukan kesulitan perkara pengambilan obyek dan subyek yang diabadikannya. Tetapi setiap ada orang dalam potretnya, dia selalu meminta bantuan kami memohon ijin kepada masing-masing sosok yang dijepret. Tidak sekadar minta ijin, tapi sekaligus meminta tanda tangan yang bersangkutan. Dia ternyata membawa berkas semacam formulir pernyataan kesediaan pihak-pihak yang didokumentasikan, tanpa kecuali.


"Saya tidak bisa meneken. Saya tidak sekolah," kata seorang wanita pedagang sayuran di Pasar Buer yang telah dijepret.


Saya kebingungan. Tiba-tiba saya teringat film jadul berjudul Intan Berduri yang diperankan Benyamin S dan Farouk Afero di tahun 80an. Di film itu, Jamal (Benyamin S) dimintai tanda tangan oleh Max Ziad (Farouk Afero) -- Jamal memanggilnya Maksiat --- yang bertindak sebagai pengacaranya. Jamal yang buta huruf mengatakan tidak bisa tanda tangan. Tetapi Max Ziad memintanya mencoret saja di bagian bawah kertas berkas.

"Coret saja," kata saya menirukan Max Ziad.


Dan wanita pedagang sayur itu pun mencoret kertas itu tanpa ampun, sampai hampir bolong.

Sejak bertemu gadis fotografer itu saya semakin berhati-hati setiap hendak mengabadikan sosok seseorang. Bahkan obyek seorang anak pun saya tetap memohon ijin kepada keluarganya sebelum saya mempublikasinya, baik di media sosial maupun media massa

7 views0 comments