JAKET HITAM RADEN SOESANTYO

Sebelum menjadi wartawan, dia orang film, tergabung di Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) yang didirikan Usmar Ismail. Pernah terlibat dalam produksi beberapa film layar lebar, salah satunya sebagai art director dalam film berjudul Asrama Dara.



Pertama kali bertemu dengannya di pertengahan 1990. Ia redaktur pelaksana di Kantor Berita Pemberitaan Angkatan Bersenjata (PAB) Perwakilan NTB. Kantornya di Jalan Bung Hatta Mataram, menjadi satu dengan bangunan Kantor Kadin NTB. Di sepanjang jalan itu, baru hanya bangunan kantor ini yang berlantai dua.


Ia sedang sibuk dengan mesin tik portabel merek Brother di depannya. Bunyinya begitu gaduh. Sesaat ia berhenti, mengintip dari balik kaca mata bacanya ke arah saya yang masih berdiri di depan pintu lantai atas, ruang kerjanya.


"Duduk dulu, saya selesaikan pekerjaan ini dulu," katanya.

Ia sedang mengedit berita-berita yang dikirim dari seluruh biro di NTB, untuk selanjutnya diteruskan ke redaksi di Jalan Merdeka Barat Jakarta Pusat. Seperti Kantor Berita Antara, PAB juga menerbitkan bulletin harian yang dilanggani belasan surat kabar di tanah air.

Saya memanggilnya Pak Sus. Ia hampir seusia dengan bapak saya. Nama lengkapnya Raden Soesantyo DA. Asalnya dari Yogyakarta.


Hari itu hari pertama saya bertugas sebagai reporter Kantor Berita PAB. Usia saya saat itu belum genap 19 tahun. Pak Sus yang sekaligus sebagai koordinator liputan menugaskan saya mewawancarai seorang tokoh. Tak tanggung-tanggung. Sosok yang saya wawancarai adalah komandan seluruh pasukan berseragam hijau di NTB. Dialah Kolonel (Inf) Farid Zainuddin, Komandan Korem 162 Wirabhakti.


Saya menggigil, hampir-hampir kencing di celana. Sebelumnya saya hanya pernah bertemu beberapa bintara TNI AD. Mimpi apa saya semalam, hari ini saya harus menemui komandan tentara satu provinsi. Saya menelan ludah. Hati saya kecut. Mungkin wajah saya nampak tak dialiri darah. Hampir-hampir saya menarik kembali lamaran yang saya ajukan seminggu lalu.

Saya menatap wajah Pak Sus. Berharap ia berubah pikiran. Misalnya menyuruh wawancara dengan siapa saja orang sipil, asal jangan tentara sebagai tugas pertama. Saya identikkan tentara seperti pasukan lebah dengan sengatan yang mematikan. Dan hari ini saya akan berhadap-hadapan dengan komandan mereka. Komandan lebah!


Pak Sus yang kalem, ternyata berdarah dingin. Ia tak mengubah keputusannya.

"Berangkat sekarang. Pakai motor saya," katanya sambil menyerahkan kunci kontak sepeda motor Yamaha bebek V80.


Malam ini saya mengenangnya. Seorang senior sekaligus orang paling dekat dengan saya. Tanpa dia, mungkin mental saya sampai saat ini tetap kerdil. Sejak itu, saya mulai bernyali. Tidak pernah merasa gentar menemui siapa pun.


Beberapa bulan kemudian kartu pers saya tiba dari Jakarta. Yang bertanda tangan di situ Kapuspen ABRI, Mayjen TNI Nurhadi Purwo Saputro, M.Sc, selaku Pemimpin Umum Kantor Berita PAB. ID card yang membuat saya semakin mudah menemui para petinggi di kesatuan AD, AL, AU, maupun Polri, setiap ada penugasan.


Di Kantor PAB ada beberapa tamu yang sering bertemu dengan Pak Sus. Salah seorang diantaranya bernama Max Arifin. Saya sering ikut nimbrung ketika mereka berbincang. Tetapi sejauh itu saya belum tahu siapa sesungguhnya lelaki yang berasal dari Sumbawa itu.


Saya terkejut ketika dalam sebuah workshop teater yang diselenggarakan kampus Unram di tahun 1992, di mana saya menjadi peserta sekaligus peliput acara, saya melihat Max Arifin tampil sebagai pembicara utama. Dari acara itulah saya baru mengetahui ia adalah tokoh sastra dan teater di NTB.


Max Arifin sering melibatkan Pak Sus dalam sejumlah pagelaran di tahun 80an, dan pembuatan video dokumenter tentang kesenian dan kebudayaan.

Saya juga belajar fotografi dari Pak Sus, bahkan hingga proses cuci cetak film dari hasil kamera analog. Saya selalu mengagumi hasil bidikannya yang tetap konsisten dengan nuansa jurnalistik.


Pak Sus ke mana-mana sering mengenakan jaket dari beberapa merek. Tetapi warnanya selalu hitam. Saya menyimpulkan ia memfavoritkan warna hitam.

Saya baru tahu jawabannya setelah beberapa tahun kemudian. Ternyata jaket itu menjadi semacam kamar gelap portabel, ketika dalam keadaan darurat. Misalnya satu rol negatif film baru digunakan beberapa kali pengambilan dan masih banyak sisa, bisa dipotong untuk langsung dicuci cetak.


Sedangkan sisanya tetap lanjut digunakan. Saat memotong itulah jaket hitam digunakan untuk menyelubungi kamera, sehingga negatif film yang sensitif cahaya tetap utuh atau tidak terbakar.


Sebuah pengetahuan yang benar-benar penting bagi saya. Selama mengenal tustel (dulu orang tak menyebut kamera) saya mesti menunggu film sampai habis terjepret, baru saya membawanya ke studio cuci cetak. Dan sejak itu saya juga membeli beberapa model jaket. Semuanya berwarna hitam.


Sampai sekarang saya masih mengoleksi beberapa jaket hitam, walaupun era kamera analog sudah belasan tahun lalu berakhir. Setiap saya menggunakannya, selalu terbayang wajah Pak Sus. Ia telah lama pergi, namun saya tak sempat melayatnya.

28 views0 comments