LUKMAN

Setumpuk kertas dari hasil print out, ketikan mesin tik, fotocopian, dan tulisan tangan saya terima darinya, setelah beberapa menit lalu salah seorang anaknya memperkenalkan saya dengannya.


Ia mungkin sudah lupa, sebelumnya, sekitar tujuh tahun lalu di pertengahan 1990an, saya pernah mewancarainya perihal musik kecimol yang sedang boming di Lombok. Saat itu saya mengkonfirmasi dalam kapasitasnya sebagai Budayawan Lombok. Ia menerima saya di ruang tamunya yang luas. Rumahnya berada persis di depan Kantor Dolog NTB, Jalan Langko Mataram.

Ia tak banyak bicara pada pertemuan ke dua itu. Setelah menyerahkan berkas ia hanya meminta agar bahan-bahan itu tersusun jadi bentuk buku. Nantinya akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Ia juga bertanya biaya total mencetak buku sebanyak 2.000 eksemplar sekaligus jasa untuk penerjemah. Saya jawab perkiraan anggarannya. Saat itu saya merangkap sebagai tukang ketik, layoutman, sekaligus editor. Sebulan lebih saya fokus menyelesaikan tugas itu. Saya bertemu lagi dengannya saat menyerahkan dokumen yang sudah terjilid rapi.

"Terima kasih." Hanya ucapan terima kasih. Dan ia nampaknya enggan bicara lebih banyak. Saya pamit. Sepanjang jalan saya membayangkan diri sebagai orang paling sial di muka bumi. Di dada saya bercampur-aduk perasaan antara kesal, kecewa, dan sedih. Hasil kerja keras saya selama itu hanya dihargai dengan ucapan terima kasih. Ado gamaq inaq! Begitulah kisah awal saya ketika mulai membangun hubungan dengan H Lalu Lukman di awal 2000an.


Ia tokoh kelahiran Kopang, 21 February 1920. Antara 1950 hingga 1970an ia pernah menjabat sebagai Kepala Distrik Kopang dan Distrik Narmada. Aktif sebagai anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) dan menjadi anggota Konstituante RI. Belakangan, setelah pensiun, ia mulai menulis tentang kebudayaan dan sejarah Lombok. Buku pertamanya berjudul "Sejarah Lombok", disunting Prof Dr Erman Rajagukguk yang juga menantunya -- Erman menikahi salah seorang putri Lukman yang bersaudara kembar. Sedangkan penanganan buku-buku selanjutnya dipercayakan kepada saya.

Sejak berkenalan itulah untuk pertama kalinya saya melihat berbagai koleksinya, diantaranya keris-keris tua dan buku-buku berbahasa Belanda. Waktu itu foto-foto tentang Lombok tempo dulu belum banyak beredar. Saya amati satu-persatu dengan penuh minat. Setiap Lukman menjenguk anak dan cucunya di Jakarta, ia selalu menyempatkan diri ke Perpustakaan Nasional. Di sana ia mem-fotocopy banyak dokumen, terutama literatur-literatur tentang Lombok.

Saya sudah melupakan "kisah pahit" itu, ketika persis sebulan kemudian Lukman menghubungi saya lewat ponsel pada suatu malam. "Yung, kenapa menghilang?" Saya menjawab berbasa-basi. "Saya sudah mendapat uang untuk biaya cetak dan untuk penerjemahannya. Besok saya tunggu Buyung di rumah." Astaghfirullahal adzim. Saya merasa berdosa sudah berprasangsa pada orang tua itu. Ternyata dalam waktu sebulan itu dia mengupayakan dana untuk kebutuhan itu. Ia tak meminta rincian tertulis.

Dan tanpa meminta tanda terima uang itu ia serahkan kepada saya. Tidak lebih dan tidak kurang dari yang saya sebutkan beberapa waktu lalu. Satu sen pun tidak ia tawar-tawar. Begitulah Lukman ketika sudah mempercayai orang. Saya butuh waktu sekitar dua minggu untuk menyelesaikan buku berjudul "Lombok Island in History" itu hingga terbit. Ketika launching, belasan wartawan diundang. Harian Kompas memuat profil Lukman hampir setengah halaman, dengan fotonya yang sedang memegang buku itu.

Sekitar dua bulan kemudian, kami duduk-duduk di beranda belakang. Waktu itu tinggal beberapa hari lebaran. "Buyung mau lebaran di mana?" "Di Sumbawa, Miq. Orangtua tinggal di sana." Mamiq, demikian saya memanggilnya, bangkit dan masuk rumah. Tak lama ia keluar lagi membawa amplop coklat. "Ini untuk Buyung. Hitung dulu," ia menyerahkan amplop yang nampak tebal itu. Saya menerimanya dengan penuh tanda tanya. "Hitung dulu," ulangnya.

Saya menghitung isi amplop. Pecahan Rp 100.000 keluaran tahun 2004. Jumlahnya sangat besar. "Ini untuk saya, Miq? Banyak sekali?" "Iya, itu royalti. Saya kan sudah bilang ke Buyung dulu, Buyung punya hak 12 persen dari nilai buku yang terjual."

Saya masih tak percaya. Saya pandang wajah uzur di depan saya. Saya sudah menghitungnya. Jumlahnya Rp 15 juta! Memiliki uang sebesar itu di jelang pertengahan 2000an sama dengan harga kontan rumah baru tipe 21 di bilangan perumahan favorit di Kota Mataram.

Lukman lalu menjelaskan 2000 eksemplar buku itu sudah habis terbeli. Saya tak habis pikir bagaimana caranya dalam kurang dari dua bulan ia bisa menjual buku sebanyak itu. Kembali ke uang sebanyak Rp 15 juta. Ini bukan jumlah main-main. Sejak tahun 1990 terjun di dunia tulis-menulis saya tak pernah bermimpi mendapat uang sebesar itu. Pernah beberapa kali terlibat dalam penerbitan buku dan media lainnya, honorarium yang saya terima paling tinggi hanya bisa mencicil beberapa bulan rumah KPR/BTN yang kami tempati di wilayah Griya Pagutan.

Lama saya merenung. Sebelumnya saya sempat melupakan buku itu, walaupun saat proses penyusunannya cukup menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Saya merelakannya. Inikah buah keihklasan itu? Persoalan nilai jerih-payah itu, berapa bayarannya, kapan dibayar, atau mungkin tak dihargai sama sekali, saya tidak terlalu pikirkan. Saya kembalikan kepada Sang Penentu Kehidupan, penentu diberi tidaknya rejeki. Yang penting, saya sudah bekerja maksimal.

Sehingga saya sering tak habis pikir, banyak calon penulis yang termotivasi bukan karena kecintaan pada bidang kepenulisan, tapi seberapa menggiurkan jumlah imbalan yang bakal diterima. Saya sendiri yang sudah belasan tahun jatuh-bangun di bidang itu, merasa tak pernah pede menghargakan karya-karya tulis saya. Sampai saat ini.

Empat buku Lukman lainnya berturut-turut saya garap setelah itu, yaitu "Lombok dalam Sejarah", "Riwayat Arya Banjar Getas", "Lelampak Lendong Kaoq", dan "Kisah van Ham". Saat proses buku terakhir itulah, Lukman sakit keras. Ia menderita komplikasi diabetes stadium tinggi dan jantung koroner. Berkali-kali saya diminta datang oleh anak-anaknya ke ruangan VIP RSU Mataram tempatnya dirawat.


Sebelum masuk ke ruangan saya diwanti-wanti agar tidak menyinggung tentang buku-buku yang selama ini selalu menjadi bahan utama pembicaraan setiap pertemuan kami. Tapi, sebelum saya duduk di dekat pembaringannya, Lukman sudah mendahului. "Bagaimana kabar buku kita, Yung?" Buku. Selalu di pikirannya buku. Walaupun ia dalam kondisi yang sangat lemah. Lukman wafat setelah setahun lebih saya bekerja sama dengannya. Saya sudah menganggapnya ayah sendiri. Sosok yang saya kagumi, yang tetap beraktifitas walaupun sudah demikian uzur.

Saya mengenangnya kembali malam ini. Lalu saya tulis status ini. Saya tidak memiliki arsip beberapa fotonya yang pernah saya abadikan dulu, lantaran tempat penyimpanan digital saya rusak, beberapa bulan setelah ia berpulang. Saya temukan pas fotonya saat masih muda, di situs konstituante.net untuk postingan ini. Sebaris doa saya panjatkan untukmu, Mamiq!

7 views0 comments