Mamiq

Lelaki itu datang membawa cangkul, menawarkan jasa membabat rumput di pekarangan dan pinggir selokan depan rumah. Sebenarnya rumput-rumput itu tak seberapa banyak dan belum terlalu tinggi. Kalau sedang datang rajin, saya biasa membersihkannya sendiri.



Tapi saya mengiyakan tawarannya. Saya merasa kasihan. Saya tak menanyakan siapa namanya. Usianya sekitar 60 tahun. Ia memakai topi dengan tepi lebar dan bercelana pendek. Di pinggangnya tergelung kain sarung pelekat.


"Kalau sudah selesai, beri tahu istri saya. Saya mau keluar dulu."

"Nggih."

Dua jam kemudian saya kembali. Hari belum terlalu siang. Ketika memasuki gerbang kompleks saya berpapasan dengan orang tua itu. Ia melambaikan tangan. Saya menghentikan kendaraan.

"Mamiq, ibu beng tiyang sepulu yu (Mamiq, ibu memberikan saya sepuluh ribu rupiah)," ujarnya. Itu semacam pengaduan, bahwa upah yang diberikan istri saya tidak sesuai dengan jerih payahnya.


Sebenarnya, uang sebesar itu di awal 2000an cukup untuk membeli 3-4 kilogram beras. Lagi pula pekerjaan itu cukup ringan, dan tak butuh waktu lama mengerjakannya. Paling lama hanya satu jam. Tetapi, bukan itu yang kini bermain di pikiran saya. Dia menyebut mamiq. Dalam bahasa Sasak, Lombok, itu artinya bapak, tapi bukan untuk panggilan bagi sembarang orang. Di Lombok, kata mamiq dilekatkan pada lelaki dewasa dari kalangan aristokrat, atau mereka yang telah berhaji. Bedanya, bagi lelaki yang telah menunaikan ibadah haji, ada tambahan di belakang kata mamiq. Orang-orang Sasak menyebutnya mamiq tuan.

Dipanggil begitu, saya yang bukan bangsawan lokal bukan pula haji, seketika merasakan harga diri meningkat. Seperti dilambungkan ke langit.


Sapaan yang membuat saya reflek merogoh saku, memberikan lelaki tua itu selembar sepuluh ribuan lagi.

Ia pandang saya dengan wajah cerah dan mata bersinar.

"Tempiasih (terima kasih), Mamiq."

Duh, emak, panggilan itu begitu nikmat, seketika sanubari terasa adem.

Ia datang lagi seminggu kemudian.

"Berikan orang tua itu dua puluh lima ribu, nanti setelah pekerjaannya selesai. Masukkan ke dalam amplop."

Istri saya mengangkat kepala, menatap saya dengan ragu.

"Kan mau bayar listrik dan PDAM."

"Biar besok saja. Berikan saja itu."

Dalam sebulan itu, dia datang empat kali. Terakhir kalinya ia datang, saya dalam kondisi paceklik alias krisis finansial.

"Liwat juluk, ndek arak kepeng (lewat dulu, tidak ada duit)."

Ia tak mengucapkan sepatah kata pun, berlalu tanpa pamit. Tanpa sapaan mamiq yang menyejukkan sanubari itu.


Betapa sebulan itu saya keranjingan dipanggil mamiq. Saya ikhlas memberi lantaran sapaan itu. Sampai saya rela menunda mengganti celana blue jeans saya yang telah lapuk dan luntur.

Belakangan, saya kerap dipanggil mamiq. Biasanya oleh mereka yang baru mengenal saya. Tetapi saya tidak merasakan sensasi dan kemegahan lagi. Saya sudah terbiasa. Atau mungkin lantaran pernah tekor? Entahlah.

20 views0 comments