Mau Sekolah Atau Kawin

Apa saja yang menjadi prioritas saya dalam menjalani hidup hingga menjelang usia separuh abad ini? Entahlah. Saya tak pernah merasa telah melakukan sesuatu yang berarti. Tidak ada target-target ambisius yang pada akhirnya mungkin menjadi beban psikologis maupun materiil.


Barangkali lantaran itulah saya tak merasa tua-tua sampai sekarang. Secara fisik tentu saja tidak seenerjik dan segagah 20-30 tahun yang lalu, tapi jiwa ini masih tetap seperti yang dulu. Hingga sekarang saya lebih banyak bermain-main dan sering sampai lupa waktu. Saya masih terus bereksperimen yang hasilnya lebih banyak mengalami kegagalan. Tetapi saya menganggapnya hal biasa. Saya tak pernah mengeluh lantaran kegagalan itu, apalagi sampai frustasi.

Mungkin saya tergolong manusia santai. Tapi bukan berarti saya tak pernah serius. Dalam pendidikan anak, misalnya. Sejak kedua anak saya -- keduanya laki-laki-- baru masuk sekolah, tidak pernah keluar dari mulut saya perintah yang memaksa mereka belajar.

Yang sering terucap adalah kalimat konyol seperti ini: "Kalian ini mau sekolah atau mau kawin? Dua-duanya bagus. Tapi pilih salah satunya. Kalau memilih menikah, sekarang juga bapak kawinkan," tegas saya. Tentu saja mereka tak sudi kecil-kecil dipaksa kawin. "Bapak itu masak suruh kita kawin," lapor keduanya kepada ibu mereka.

Mungkin lantaran takut dikawinkan itulah mereka akhirnya memilih bersekolah. Dan saya sering tak menyadari waktu telah bergulir. Ternyata perjalanan saya telah cukup panjang. Saya tersentak ketika Sutan Ikram Auliya, anak sulung saya, mengabarkan jadual wisudanya di Bulan Nopember ini. Ia diwisuda secara serentak bersama para wisudawan Universitas Mataram (Unram) Bulan Maret, Juni, dan September.

Saya teringat lagi "opsi" yang saya ucapkan dulu, "Mau sekolah atau kawin?" Jika saya tidak sedang memegang selembar ijazah sarjana S1 hasil ketekunannya itu, saya belum percaya bahwa ia telah menyelesaikan studinya. Tapi saya tak menunjukkan ekspresi bahwa pencapaiannya itu sesuatu yang luar biasa. Dengan santai saya bertanya, "Lalu kapan kamu menikah?"

Ia tak menjawab, persis seperti dulu ketika saya memberikan dua pilihan itu. Ia nyengir. Nyengir kuda. Lalu ngeloyor pergi.

1 view0 comments