Mengenal Lebih Dekat Sudirman, Owner Goedang Kopi Ampenan

Updated: 5 days ago


Sudirman saat berada di Kota Amsterdam, Belanda 2015 lalu


Mataram, Nasionaleditor.com - Sudirman telah malang melintang di dunia hospitality. Pria 41 tahun tersebut memulai karir di dunia industri ramah-tamah tersebut sejak tahun 1998 dimulai dari Room Division, kemudian ke bagian Food and Beverage Service, Housekeeping, Butler dan lain sebagainya.


Beberapa hotel dan resort mewah tempatnya pernah bekerja, diantaranya The Qunci Villa, Oberoi, Jeeva Klui, Selong Selo Resort and Residences Lombok, Raja Vila dan lain-lain. Ia juga pernah bekerja di The Tanjung Rhu Resort, Langkawi Malaysia dan cruise.


Dedikasi dan totalitasnya dalam bekerja telah membuatnya meraih berbagai macam penghargaan diantaranya: Service Heroes Award 2006, The nominee for employee of the year 2005, The Best Employee-Month of October 2005, Service Heroes Award 2005, dan The Best Performance 2004. Selain itu, Ia juga membawa Jeeva Klui Resorts sebagai Top 5 Hotel di Indonesia versi Tripadvisor 2014.


Sudirman saat mengunjungi Kota Brussel, Belgia 2015 lalu


Dalam perjalanan karir yang panjang tersebut, Ketua DPD IFBEC (Indonesian Food & Beverage Executive Association) NTB tersebut pernah menempati beberapa jabatan penting, seperti Food and Beverage Manager, Operational Manager, Villa Manager hingga Hotel Manager.


“Karir di dunia hospitality dimulai dari tahun 1998. Sebenarnya saya 1998 itu basic saya di room division kemudian beralih ke Food & Beverage service. Pada Tahun 1998 dari Lombok Raya pindah ke Oberoi, ke Kila. Saya angkatan pertama juga di Mc Donalds yang di Cilinaya. Akhirnya pindah ke Malaysia 7 tahun di hotel juga. Room Division 2 tahun selebihnya Food & Beverage ( F&B ) service. Posisi terakhir di Captain Restaurant, kemudian saya move ke Bali selama 2 tahun di The shanti Residents sebagai Head Butler dan di The Edge Luxury Villa sebagai Executive Butler. Akhirnya pindah ke kapal cruise selama dua tahun. Balik lagi ke Lombok kerja lagi di Qunci Vila, dan Jeeva Klui sebagai F&B Manager. Masuk ke kapal lagi setahun di River Cruise tujuan Amsterdam-Budapest, Amsterdam-Basel, Swiss. Selesai akhir tahun saya juga di Selong Selo sebagai Vila Manager. Masih promote ke Operational Manager. Setelah itu saya pindah ke Raja Vila sebagai Hotel Manager,” kata pria ramah tersebut.


Pandemi Covid-19 memberikan tantangan baru sekaligus berkah baginya. Industri pariwisata sebagai salah satu sektor yang pertama dan paling terkena dampak dari pandemi Virus Corona tersebut. Tingkat kunjungan dan occupancy hotel menurun drastis, bahkan mencapai nol persen seiring dengan kebijakan lockdown di seluruh dunia.


Goedang Kopi Ampenan bergaya retro terinspirasi dari sejarah Kota Tua, Ampenan


Menghadapi hal tersebut, dengan mentalitas dan pengalaman yang sudah terbentuk selama 23 tahun di dunia hospitality, Sudirman tidak tinggal diam. Ia berhenti di tempatnya bekerja, dan membuka usaha sendiri bernama Goedang Kopi Ampenan. Dengan manajemen dan keahliannya dalam meracik kopi, Goedang Kopi Ampenan miliknya yang berada di jantung Kota Tua Ampenan tersebut tetap survive meski ditengah krisis ekonomi akibat pandemi.

Pria kelahiran Kampung Melayu, Ampenan tersebut sengaja memilih lokasi usahanya di Kota Tua, karena selain dekat dengan rumahnya, juga karena ingin membangkitkan kembali kota bersejarah di Pulau Lombok tersebut.


“Karena saya kan orang kampung sebelah ya. Dulunya ada willing pribadi saya sendiri untuk ngembangin Ampenan ini lagi. Ya itu, karena kita hotelier, banyak orang-orang hotel disini. Tujuannya sebenarnya adalah membangkitkan Ampenan ini untuk bangkit lagi seperti dahulu. Sampai saat itu saya berkumpul sama teman-teman sejarawan, budayawan. Bagaimana caranya Ampenan ini bisa bangkit lagi,” harapnya.


Lokasi Goedang Kopi Ampenan, Jalan Pabean, beberapa meter dari Gapura Selamat Datang, Kota Tua, sebelah utara jalan


Melihat pangsa pasar kopi yang tidak terlalu banyak, Ia kemudian berpikir untuk menyediakan makanan dan minuman selain dari kopi itu sendiri termasuk termasuk meeting room berkapasitas 25 orang .


“Sebenarnya awalnya sih kopi. cuma demand untuk kopi itu gak terlalu banyak. Akhirnya kita berpikir pasar kita belum disana, akhirnya kita buka resto. Kita jual makanan dan minuman akhirnya, instead of coffee itu sendiri. Jadi dia berputar sama food and beverage itu sendiri, dan mixing kopinya juga ada. Yang diatas kita buat tempat meeting room kapasitas 25 orang,” imbuhnya.


Ia berpesan kepada warga-masyarakat agar tidak terlalu menuntut ke pemerintah, namun memulai bekerja apa yang mampu dikerjakan dengan tujuan utama agar banyak pengunjung yang datang dan dapat membuka lowongan pekerjaan.


“Jangan terlalu menuntut ke pemerintah. Apa yang bisa kita lakukan, silahkan lakukan. Silahkan teman-teman buka kedai kecil. Buka tutup terserah yang penting jalannya ramai. Satu lagi niat awalnya itu, agar teman-teman yang putus bekerja, kita bisa pekerjakan lagi,” pesannya.


Lulusan sekolah pariwisata itu berharap agar pemerintah membuat suatu kebijakan yang melindungi dan melestarikan bentuk asli dari bangunan Kota Tua berasitektur art deco tersebut.


“Seandainya ada kebijakan dari pemerintah, oke saya kasih biaya pemeliharaan pertahun sekian, tapi jangan dirubah ya,” kata Dirman--panggilan akrabnya.


Sudirman adalah seorang yang sederhana, pembelajar cepat dan mudah bergaul. Ia mempunyai prinsip, berikan yang terbaik, maka yang terbaik akan datang dengan sendirinya.(UJ/NE).


302 views0 comments