"Opik te Ajian ne!"



Sehabis berkegiatan dikampus, letih dan lesu pun cukup terasa. Mungkin efek dari kurang istirahat, dan mungkin juga efek dari terik sinar matahari yang cukup membuat kepala meledak, membuat saya sedikit lebih cepat lelah, akibatnya cairan dalam tubuh cepat pula hilang "hidrasi". Yang pada akhirnya memaksa saya untuk beranjak ke tempat yang lebih teduh nan meneduhkan.


Pada saat di atas kendaraan, saya kepikiran untuk singgah di warung kopi terdekat sekedar untuk melepas penat dan lelah. Pada saat yang bersamaan juga, saya kepikirkan, kenapa saya tidak ngopi di rumah kawan saja, sekalian silaturrahmi dan bercengkrama. Daripada saya ngopinya di pinggir jalan, yang panasnya setengah mati, "mendingan ke rumah kawan saja", gerutu saya sendiri diatas motor. Saya pun memutar motor menuju salah satu kawan.


"Hallo, mbe taok ni?" (Hallo, lagi dimana), tanya saya kepada Kaka.

"Lek bale ne" (di rumah ini), jawabnya.

"Arak kesibukan ndk? jak ku lito ngupi", (ada kesibukan tidak, saya mau kesana ngopi), tanya saya lagi.

"Ndk arak ne, ktek wah", (tidak ada, kesini saja), tegasnya.

Dengan sedikit tergesa-gesa gas motor pun saya tarik langsung menuju rumahnya.


Ketika saya sedang diperjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba hand phone saya berdering lagi.

"Hallo, ente lek mbe wah ni?", ( Hallo, udah dimana itu) ,tanyanya tiba-tiba.

"Lek Loang Balok, kembek ne?", (Di Loang Balok, kenapa?) ,pungkas saya.

"Aku wah pesen kupi online baruq, bau ente COD kance dengan sak bedagang no?", (Saya sudah pesan kopi online tadi, bisa kamu yang COD sama pedagangnya?) ,tanyanya lagi.

"Bau gati hep", (sangat bisa bro) ,tegas saya.

"Nane ku kiriman nomer ne jok ente, telpon wah ye terus", (sekarang saya kirimkan nomornya ke kamu, telpon dia trus), jelasnya lagi.


Tak berselang lama setelah obrolan lewat telpon tadi, saat saya mulai masuk wilayah Loang Balok, terlihat cukup mendung. Yang sedikit membuat saya heran, tadi dikampus panasnya minta ampun, sekarang setibanya di Loang Balok, terlihat cukup mendung, bahkan gerimis, padahal jarak antara kampus saya dan Loang Balok tidak terlampaiu jauh. Tak ingin berlama-lama di jalan, saya pun menelpon nomor pedagang yang sudah di kirimkan melalui message tadi.


"Assalamu'alaikum, hallo, lagi dimana?" ,tanya saya.

"Wa'alaikumussalam, iya, lagi di depan Kubur Cina" ,jawabnya dengan suara lembut.

"Kubur Cina yang di jalan perindustrian ya?" ,tanya saya lagi. Sekedar untuk memastikan. Karena setahu saya, kubur Cina di Mataram ada dua, satu di Bintaro, dan satunya lagi yang saya sebut diatas.

"Iya" ,tegasnya dengan suara lembut.

Tadi saya pikir, penjual kopi ini pasti cowo, karena memang cowo lah yang kebanyakan minum kopi, tetapi kali ini penjulanya cewe yang membuat saya makin heran. "Wah lumayan, bisa modus-modus dikit" ,gerutu saya.


Baru setengah perjalanan jarak tempuh dari Loang Balok menuju Kubur Cina, badan saya sudah diguyur rintik hujan yang cukup besar. Sempat mau berhenti sekedar untuk berteduh. Tetapi saya putuskan untuk lanjut saja, hitung-hitung tanggung juga kalau berhenti. Kalaupun saya basah, paling basahnya sedikit, karena jarak tempuh saya dari sini ke Kubur Cina cukup dekat.


Betul saja, saya sedikit basah. Tapi Tas slempang yang saya kenakan cukup basah, karena posisinya didepan, dan tepat diposisi arah hujan.

"Hallo mba, saya sudah sampai di depan Kubur Cina, mba nya dimana?" ,tanya saya sambil menengoh kiri kanan, dengan di temani guyuran grimis.

"Iya, saya dibelakang side" ,tegasnya sambil melangkah maju dari tempat singgahnya.

Dengan sedikit tergesa-gesa, saya pun langsung memutar balikkan motor agar tak berlama-lama.

"Ini kopinya kak" ,tegasnya sambil memberikan kopi yang dibungkus dengan plastik hitam. Saya cukup heran, kenapa dia tiba-tiba memanggil saya dengan panggilan kakak.


"Berapa semuanya dek?",tanya saya untuk memastikan harga kopi yang diberikan. Sebenarnya saya sudah diberi tahu oleh Kaka harga keseluruhan. Sekedar ber-basa basi ke pedagang, lagi pula dia cewe, kalau cowo, mungkin saya ogah hanya untuk sekedar ber-basa basi, mengingat gerimis yang masih mengguyur badan.

"Empat belas Ribu kak" ,jawabnya dengan suara sedikit rendah.

Lalu saya segera mengambil dompet disaku.

"Ini dek" ,jelas saya sambil memberikan uangnya.

"Bentar ya kak" ,tegasnya sambil merogoh tasnya.


Saya pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Kaka. Saya sebut Kaka saja ditulisan ini. Tak lama, saya pun samapi dirumahnya dengan membawa kopi yang sudah di pesan tadi. Tanpa basa basi, Kaka langsung menaikkan air ke atas kompor setelah melihat saya sedikit kebasahan. Akhirnya kopi pun matang, dan saatnya saya menunaikan niat saya.


"Hallo, mbe taok ni, ktek meh jok bale ngupi" (Hallo, lagi dimana, ayo sini ngopi) ,suara Kaka sedang mengobrol via teleponnya.

"Oo aok wah, ku antih" (Ya sudah, saya tunggu), ucapnya lagi.

"Sai no, Ka?" (Siapa itu, Ka?),tanya saya.

"Putra, jak ne ktek endah" (Putra, mau kesini juga),jelasnya.


Tak lama setelah obrolannya di telepon tadi, suara salam pun terdengar dari depan pintu gerbang. Cepat sekali datangnya, padahal hujan sudah lumayan lebat pikir saya.

"Assalamu'alaikum, wah, gimana kabar side bro", tanya Putra.

"Alhamdulillah, baik bro, side bagaimana kabar?",tanya saya balik.

"Alhamdulillah sehat juga", jelasnya.

"Kemarin saya mau ke Rumahnya Opik, mau nemui Kaka tapi hujan besar, udah satu jam saya belum saja jalan, tiba-tiba Kaka nelpon saya lagi, dia bilang, Opik ye te ajian, wah kaget banget saya. Karena saya tidak jadi kerumahnya. Nah, paginya saya dengar siaran orang meninggal di desanya Opik, saya pikir dia betulan meninggal" ,cerita Putra membuka obrolan.

"Hahahahahahah" ,ketawa saya dan Kaka mendengar ceritanya, karena reputasi Kaka dalam bercerita memang senang ber-hoax.