Pelajaran Berburu Dari Datu Ranga

Di reportasenya tertulis sebuah nama: Datoe Rango. Saya simpulkan yang dia maksud adalah Datu Ranga, Perdana Menteri Kesultanan Sumbawa.


"Datu dulunya pembesar yang memegang kekuasaan di bawah pemerintahan sultan," tulis AV dalam sebuah laporan jurnalistiknya di koran Nieuwsblad van Friesland yang terbit pada 23 Agustus 1913.


(Bagian lain tentang pengalaman jurnalis Belanda ini selama berada di Sumbawa seabad yang lalu, silakan baca di postingan saya sebelumnya, berjudul Bangsa Jin di Belantara Pulau Moyo https://mobile.facebook.com/story.phpstory_fbid=10216221852250570&id=1580290166&ref=bookmarks)


Wartawan itu diperkenalkan dengan Datu Ranga sekembalinya dari Taliwang, Sumbawa Barat. Di Taliwang dia sempat berburu beberapa jenis burung. "Ada dua jenis itik di Taliwang. Jenis yang paling besar ukurannya sedikit lebih kecil dari itik di Belanda," tulisnya.

Apakah yang dimaksud wartawan itu jenis burung belibis? Ketika saya masih SMA di awal 1990an di Alas, Sumbawa, saya kerap mendengar kawanan burung belibis yang datang ke Sumbawa Barat di musim-musim tertentu. Koloni belibis yang diduga hijrah dari Australia ini sering ditemukan sedang berenang di Danau Lebo, Taliwang.


Di pedalaman Taliwang, AV juga ikut berburu burung wood cockerel dan praeht. "Tidak kalah dengan faisant di Belanda soal keanggunan bulunya. Ayamnya kecil, sedikit lebih besar dari ayam hutan dan warnanya hampir sama. Aku ingin sekali membawa ayam jago jenis ini dalam keadaan hidup-hidup ke Jawa," lanjutnya.


Datu Ranga memperkenalkan cara berburu yang tidak pernah dilakukan warga Belanda itu. Satu metode berburu dengan menunggang kuda yang menurut Datu lebih menuai hasil dibanding dengan berjalan kaki. "Aku menyukai cara itu. Datu sudah menyiapkan segalanya untuk keperluan itu, dan menjelaskan kepadaku dalam bahasa Melayu," tutur AV.

"Tuan duduk di atas kuda, yang diikat sekitar 3 meter di belakang kuda lain. Di atas kuda di depan duduk seorang pribumi. Biarkan kuda berjalan di hutan dengan kecepatan sedang. Pribumi itu akan menunjuk ke kiri atau ke kanan, untuk memberi isyarat bahwa ada seekor rusa," kata Datu Ranga.


"Datu segera memberi kesempatan untuk melakukannya. Saat pria itu menunjuk, aku meluncur dari kuda, tapi langsung terjatuh ke tanah," ujar AV.
"Bukan begitu," sergah Datu Ranga.

Namun setelah mencoba berkali-kali, AV akhirnya mulai menguasai cara berburu secara tradisional tapi sangat efektif dan menghemat tenaga itu. Bahwa dalam berburu dengan cara ini, lebih banyak mengandalkan insting kuda yang memiliki indera lebih peka dalam hal melacak keberadaan rusa sebagai hewan buruan.


Di belantara Utan, AV juga sempat berburu. Di sini dia untuk pertama kalinya menembak babi hutan. Menurut dia, lebih mudah berburu babi dibanding rusa yang butuh ekstra kehati-hatian.

Tetapi setelah dia mendapatkan buruannya, dia menggerutu. Ia baru sadar berada di daerah mayoritas Muslim yang mengharamkan babi. Siapa sudi melayaninya membantu memasakkan daging hewan bertaring itu? "Sebagai orang Muslim, mereka tidak ingin berurusan dengan babi yang telah ditembak. Andai saja ada seorang juru masak Cina," demikian ia berhayal, menyayangkan hewan buruannya, babi gemuk yang mati sia-sia itu.


Sumbawa, kata AV, selain tanah yang indah, kaya dengan berbagai hewan buruan. Baik rusa, babi hutan, hingga berjenis-jenis unggas.

Saya membayangkan kondisi Sumbawa di masa itu, yang menurut Gerrit Kuperus, peneliti dan penulis Belanda, dalam buku Het Cultuurlandschap van West-Soembawa, masyarakatnya jauh lebih makmur dibanding penduduk di Pulau Jawa. Masyarakat Tana Samawa yang memiliki tanah subur dan hutan yang kaya-raya. Itu satu abad yang lampau. Sekarang?

0 views0 comments