Nasehat Bisnis Lalu Suryataga, Pengusaha Sukses di Kalimantan Yang Kini Balik ke Lombok

Updated: Sep 24



"Jangan berpikir seberapa besar kita dapatkan uang, tapi berpikirlah seberapa bagus yang bisa kita perbuat. Maka hasilnya tidak akan pernah bohong", pesan Lalu Suryataga

Mataram, Nasionaleditor.com - Tidak banyak yang mengenal Lalu Suryataga, seorang pengusaha sukses kelahiran Lombok Timur yang memulai berwirausaha di kampung halamannya, Tete Batu, Lombok Timur. Lalu Surya sudah belajar mandiri sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Kendati orangtuanya mampu saat itu, namun dia tidak ingin menggantungkan semua kebutuhan Sekolah nya pada orang tua. Dia merupakan siswa berprestasi di kelasnya.


“Pada Caturwulan pertama, saya juara satu dapat buku empat, Cawu kedua saya juara satu tetap dapat buku empat. Naik kelas 2 saya juara satu dapat buku empat. Dari SD-SMA saya belum pernah juara tiga. Seingat saya. Bahkan saya pernah juara umum satu dari 7 kelas waktu itu,” ungkapnya.


Pria Kelahiran Lekong Pituk, 1973 tersebut merasa Indonesia unggul dalam banyak hal, namun tidak mempunyai kemampuan (skill) untuk berkompetisi. Hal itu disebabkan karena mindset untuk bekerja yang keliru.


“Dalam satu tahun ada 364 hari. 364 harilah kita melihat matahari. Dan itu energi yang sangat luar biasa yang tidak semua punya. Banyak negara yang jarang muncul matahari. Itu modal yang sangat besar. Sehingga apa yang gak tumbuh di Indonesia. Apa yang kita tidak punya di Indonesia ini. Hanya kemampuan kita untuk berkompetisi yang tidak ada, karena apa? Karena mindset kita untuk bekerja itu tidak bagus. Cara kita merespon, atau kita mengartikan kita mau bekerja itu yang banyak keliru,” jelasnya.


Meskipun telah sukses, Lalu Suryataga tetap low profile


“Kita bekerja itu sekarang banyak yang dadakan, latahan, ikut-ikutan. Padahal kemampuan kita tidak disitu. Yang namanya skill itu adalah sesuatu yang mampu kita buat, mampu kita pikirkan, mampu kita keluarkan Makanya sampai kiamat tidak akan sukses. Tuhan sudah tentukan lho hidup kita ini, You mau apa?, tinggal dijalani sesuai bidang kita,” imbuhnya.


Founder Trisurya Company tersebut mengatakan bahwa Ia terjun ke bisnis ekspor impor dimulai saat melihat adanya monopoli stok barang dan harga di warung maupun supermarket di kampungnya.


“Karena saya lihat, saya lahir di kampung. Ada orang bikin warung, yang lain bikin kios, yang lain bikin supermarket. Saya merasa ada yang memonopoli, jadi saya terjun bisnis ke luar negeri. Saat itu tahun 93, saya ekspor meja, kursi ke Belanda,” kata Surya—sapaan akrabnya.


Seiring berjalan waktu, usaha ekspor impor Surya tidak hanya ke Belanda, tapi juga ke Timur Tengah, Asia Timur, Asia Tenggara dan lain-lain dengan jumlah transaksi tiap bulannya mencapai milyaran rupiah.


“Saya masuk ke Timur Tengah tahun 2008, ke Asia, China, Vietnam dan lain-lain tahun 2010. Setiap bulan milyaran saya trasaksi,” ungkap Surya.


Menurutnya, berkompetisi di dunia bisnis terletak pada cara memanjakan pelanggan. Yaitu memberikan pelanggan apa yang mereka inginkan.


“Kita berkompetisi bagaimana caranya memanjakan customer. Sederhanya, kasih orang apa yang mereka mau. Kalau mereka mau kerupuk jangan kasih dia roti. Padahal roti bagus kan dibanding kerupuk. Tapi disaat itu mungkin dia mau membuat rujak, mau beberok (makanan khas Lombok yang dibuat dari lalapan terong dan kacang panjang dengan sambal tomat yang pedas. Kadang ditambah kerupuk sebagai pelengkap). Mencelup roti kan tidak enak,” kata Surya memberikan contoh.


Walaupun sudah sukses, Surya tetap low profile. Bahkan owner Mandalika Grosir tersebut tidak ingin di ekspose oleh media manapun sebelumnya. Yang terpenting baginya adalah membangun diri, keluarga, masyarakat, khususnya di Lombok.


“Saya orangnya tidak mau di ekspose. Saya juga merasa sudah dikenal orang banyak. Sekalipun 2,3 orang. Saya tidak butuh itu. Yang saya butuhkan bagaimana kemudian kita bisa membangun diri, keluarga, masyarakat, khususnya di Lombok ini,” harapnya.


Diakhir wawancara Surya berpesan, didalam bisnis harus lebih mengutamakan pelayanan terbaik, karena hasilnya akan sesuai dengan tindakan tersebut.


“Jangan berpikir seberapa besar kita dapatkan uang, tapi berpikirlah seberapa bagus yang bisa kita perbuat. Maka hasilnya tidak akan pernah bohong,” pesannya. (UJ/NE).

48 views0 comments