Perempuan-Perempuan Mengangkang

Ke arah mana saja memandang, mata saya membentur sosok perempuan dalam posisi mengangkang. Saya baru sadar, hanya saya sendirian lelaki di ruangan itu.


Ada sembilan perempuan di situ. Enam diantaranya terlentang di atas tempat tidur masing-masing, sambil mengerang tiada henti. Benar. Semuanya mengangkang, tanpa selembar benang pun menutup bagian bawah tubuh mereka.

Saya akan ceritakan mengapa saya bisa sampai ke ruangan itu. Tadinya saya sedang duduk-duduk di luar bersama beberapa orang laki-laki. Kami hanya duduk, tanpa seorang pun berbicara. Seorang wanita ke luar setelah menguak pintu. Ia menghampiri saya. "Mas bisa lihat darah?" tanyanya. "Mudah-mudahan bisa." "Kalau begitu tolong bantu saya."

Saya mengikutinya memasuki ruangan. Sebuah ruang bersalin di RSAD Mataram. Saya lihat istri saya yang sedang merintih kesakitan. Di sebelahnya berdiri emak saya. Wanita yang mengajak masuk tadi mengatakan, bidan hanya dia seorang yang bertugas malam itu, sementara cukup banyak perempuan yang mesti dibantu persalinannya. Ia hanya didampingi seorang asisten.

"Mas, saya tolong perempuan yang di sebelah dulu. Dari tadi bayinya belum keluar-keluar juga. Istri Mas kan baru datang, biar giliran."

Ternyata tak hanya istri saya yang berada di ruangan itu. Dan orang-orang yang duduk-duduk di luar itu para suami mereka. Pasti tadi bidan juga sempat bertanya kepada mereka sebelum saya datang, tapi mereka tidak berani masuk.

Ruangan semakin gaduh. Suara erangan enam perempuan, termasuk istri saya. Beberapa menjerit keras. Kembali mata saya mengedari ruangan. Seperti tadi, pandangan saya tertumbuk pada kaki-kaki yang mengangkang.


Yang ada hanya perasaan iba. Perempuan-perempuan yang sedang menanggung kesakitan luar biasa. Mereka yang mengabaikan rasa canggung dan malu, berjuang antara hidup dan mati melahirkan sang jabang bayi.

Giliran istri saya, bidan memberi tahu apa yang akan saya kerjakan. Saya diminta menahan tubuh istri saya, menekan kepalanya sampai dagunya menyentuh dada. "Ijinkan saya berdoa dulu." "Silakan, Bu Bidan."

Ia mengucapkan doa dengan cukup keras. Bidan itu penganut Katolik. Hanya beberapa kali istri saya mengejan, bayi pertama saya lahir. Bayi lelaki dengan berat hampir tiga kilogram. Hari itu, Minggu, 24 Mei 1998, persis jam 10 malam. Tiga hari yang lalu Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden. Menurut prakiraan bidan, anak saya mestinya lahir seminggu lalu.

"Dia tunggu Ketua Orde Baru tumbang, baru mau keluar," celetuk teman saya yang datang menjenguk keesokan harinya.

Lima tahun kemudian saya kembali lagi ke ruangan itu. Anak ke dua saya, juga dilahirkan di tempat itu. Tapi kali ini saya tak melihat banyak perempuan mengangkang. Pasien yang ada hanya istri saya. Saya merasa beruntung, apalagi yang melayani proses kelahiran dibantu tiga orang bidan sekaligus. Tapi bidan yang menolong istri saya pertama kali itu sudah tidak bertugas di sana. Ia meninggalkan Lombok saat huru-hara di Bulan Januari 2000 di Mataram.

3 views0 comments

Recent Posts

See All

Subscribe untuk tetap mendapatkan update dari kami

  • White Facebook Icon

©2020 Copyright Nasional Editor -  Design & Development by DX ProDigital