Putra Dewa Gunung Rinjani Menetap di Eropa

Naskah itu bertahun-tahun membuat saya penasaran. Judulnya tercantum di Repertorium op de Literatuur Betrreffende de Nederlandshe Kolonien 1921-1925. Penulisnya bernama Vogelesang. Judul lengkap karya setebal 417 halaman yang diterbitkan di tahun 1923 itu, Waktoe Teloe-verhalen (der Sasaks op Lombok) - Babad Boentji Serawak.



Kepenasaran saya lantaran tersebutnya kata babad, dan dua kata di belakangnya: Boentji Serawak. Sungguh babad yang aneh. Saya mencoba searching dengan bermacam kata kunci. Tidak ada saya temukan baik file digital ataupun info bagaimana mendapatkan karya itu.


Sampai suatu hari saya tak sengaja menemukan sebuah kliping koran berbahasa Belanda dalam format gambar digital. Ini satu-satunya petunjuk yang saya peroleh. Dalam guntingan surat kabar De Nederlander yang terbit pada 22 Oktober 1923 itu, saya mendapatkan informasi, Vogelesang banyak mengisi majalah-majalah kolonial dengan hasil studi etnologis tentang Lombok. Di artikel yang dirilis itu pula rasa penasaran itu sedikit terjawab. Boentji Serawak adalah tokoh dalam cerita yang telah ditulisnya itu. Ia seorang putra dewa berkulit putih di Gunung Rinjani.


Boentji Serawak menetap cukup lama di Eropa. Ia kemudian kembali ke Lombok dan menjadi penguasa Suku Sasak. Ia seorang Mohammedan -- orang Belanda menyebut Mohammedan bagi kaum muslim. "Dia sosok yang menghormati kami orang Eropa, dan terutama pegawai negeri. Karena dia orang Sasak yang tidak menyimpan kebencian rasial terhadap orang Eropa, kami berhutang kepadanya, bahwa orang Sasak tidak memandang rendah kami sebagai kafir," demikian De Nederlander mengutip sinopsis karya Vogelesang.


Vogelesang, tulis De Nederlander, bahkan menyebut karyanya itu kitab suci. Penulis ini menyebutkan, sebelum dunia diciptakan, alam semesta itu dalam keadaan kacau. Yang ada hanya nur (shine, light). Setelah bumi dan cakrawala mengambil bentuk padat, lahirlah empat nabi (nama-nama nabi ini tidak disebutkan). Menyusul kemudian penguasa surga dan neraka dengan nama Datu Ketip Pandita Mas. "Dia yang tertinggi di surga dan neraka. Anaknya yang pertama lahir bernama Datu Betara Indra. Di negeri tempat kesendirian dan kemalasan merajalela, anak ke duanya lahir, juga laki-laki, diberi nama Datu Turgi. Kemudian negara bagian Lombok diciptakan. Putra ke tiga Datu Ketip Pandita Mas bernama Datu Durga Pasti, dia menjadi Raja Selaparang. Menyusul adik perempuannya bernama Putri Petimah (Fatimah) yang menjadi penguasa Negeri Sesela," tulis De Nederlander.


Saya cukup mengenal beberapa nama itu. Salah satunya yang disebut Putri Petimah. Mungkin yang dimaksud Dende Siti Fatimah, yang dalam satu versi cerita, sosoknya menghilang di Desa Sesela, Gunung Sari, Lombok Barat. Tetapi versi ini menyebut Fatimah anak Raja Selaparang, bukan sebagai adik dalam karya Vogelesang.


Tadinya saya berharap sedikit informasi yang saya dapatkan itu bisa menjadi rujukan penting dan ilmiah. Nyatanya saya tambah kebingungan. Selama ini, di Lombok sendiri, setiap saya menemui sumber, katakanlah untuk memperoleh kejelasan tentang suatu tradisi atau riwayat sosok yang melegenda, jawabannya berbeda. Ketika lima sumber bertutur, misalnya, maka memunculkan lima versi kisah yang tak sama satu sama lain.


Tetapi, saya tetap meyakini sesuatu yang samar atau sama sekali belum terungkap pun, akan terjawab oleh kebenaran sejarahnya sendiri. Hanya persoalan waktu.

2 views0 comments