Rahasia Kesedapan Masakan Eri Al-Iqro

Di hari ke-17 puasa, saya mendapat undangan istimewa. Pengundangnya suplier telur ayam terkemuka di NTB yang berkantor di Jalan Adi Sucipto 25 Mataram.

"Diundang berbuka oleh Mbak Eri," kata Zia Helmi melalui pesan WhatApp menjelang sore, Minggu (10/05/2020).



Zia Helmi adalah orang ke dua di perusahaan penyalur komoditas yang tiada mengenal resesi itu. Suplier dengan nama unik: Iqro'. Pikiran saya mulai menghubung-hubungkan. Iqro' dan 17 Ramadhan. Saya lalu ingat, ini hari turunnya kitab suci Al-Qur'an. Nuzulul Qur'an, dengan Al-'Alaq sebagai surah pertama. Iqro' adalah kata pertama mengawali surah yang terdiri dari 19 ayat itu. Boleh jadi, Iqro memang mengistimewakan hari itu, sebagai momentum penting untuk bersilaturahmi sekaligus berefleksi.


Eri yang dimaksud Zia Helmi adalah kakak iparnya. Nama lengkapnya Eri Retna Safitri. Istri Yus Rizal, Bos Iqro'.

Saya mengenal Eri hampir setahun, ketika saya menulis cerita serial Noni Jembatan Ampenan yang saya jadikan status selama hampir dua bulan. Ia paling aktif mengikuti setiap episode, dan selalu memberi komentar. Noni Jembatan Ampenan mengisahkan seorang dara Belanda yang jatuh cinta kepada pemuda Ampenan, Lombok. Jatuh cinta yang membuatnya tak ingin meninggalkan kota bandar ini hingga di akhir hayatnya. Pada salah satu episode, Eri berseloroh, "Bang Rizal juga tak mau kembali lagi ke Arab setelah jatuh cinta pada wanita Ampenan," katanya.


Terus terang, Eri termasuk perempuan agak cerewet. Tetapi Rizal, sang suami, tidak pernah mempersoalkannya sama sekali. Ia memang benar-benar cinta mati. Terlebih setelah menyadari istrinya yang piawai mengolah berbagai kuliner. Ia mengaku sangat disayangi sang bini.


"Sampai perut saya bedel (gendut, bahasa Sasak) gara-gara disayang istri," ujarnya suatu hari.

Perut bedel lelaki yang bersisilah dari sebuah lembah di Negeri Yaman ini lantaran masakan istrinya yang serba maknyus.

Sebagai penjajal kuliner, saya penasaran. Dan, pucuk dicinta ulam pun tiba. Undangan berbuka puasa datang. Inilah saat membuktikan kebenaran ucapan Rizal yang selalu memuji-muji istrinya.


Sepuluh menit menjelang berbuka, di rumah Rizal, belasan orang mengelilingi hidangan yang diletakkan di lantai. Ada dua lembar daun pisang yang utuh dengan batangnya. Di atasnya nasi putih menggunung. Awalnya saya menyangka menu itu nasi kebuli.

"Ini nasi liwet," jelas Eri. Di atas gundukan nasi ditaburi sejumlah lauk, di antaranya tempura ikan laut dan udang goreng. Persis di hadapan saya terhidang beberapa jenis jajanan dan minuman. Sajian-sajian yang menggiurkan itu nyaris membuat puasa saya makruh, karena saya sempat meneguk air liur beberapa kali.


Maghrib tiba. Pertama kali saya menikmati es kelapa muda. Segar dan terasa manis orijinal. Original karena tidak menggunakan pemanis buatan. Seseorang menyendokkan nasi liwet beserta lauknya ke piring saya. Saya terkejut ketika menyadari porsinya tiga kali lipat dibanding saat berbuka sendiri di rumah. Saya ragu akan bisa menghabiskannya. Tapi, Bismillah, saya memulai saja bersantap.


Tempura itu begitu menggelitik selera. Lidah serasa dimanja. Saya selingi dengan menggigit potongan-potongan udang.

"Itu sambal mercon," ujar Eri menawarkan.

Inilah untuk pertama kalinya saya merasakan sambal mercon. Pedasnya dapat banget, mengingat saya penghobi masakan pedas. Saya colek mentimun di sambal itu, lalu menjejalinya ke mulut. Entah telah berapa kali suapan, piring saya tahu-tahu sudah licin tandas. Rizal benar. Sensasi rasa masakan Eri tidak kalah dengan menu-menu rumah-rumah makan di Mataram. Bukti kelezatannya, saya mampu menghabiskan porsi makan tiga kali lipat daripada biasanya.


Tapi, akibatnya, saya tak bisa bangkit karena kekenyangan. Rasanya persis seperti hari-hari pertama puasa di masa kecil. Perut kaget karena kepenuhan.

Saya menunggu satu jam lebih agar perut ada celah diisi kembali. Soalnya, masih ada beberapa makanan yang belum saya sentuh.

Makanan penutup malam itu adalah lumpur surga dan salad yang menggetarkan indera rasa. Kedua makanan ini membuat otak saya seketika rileks. Pikiran mampu melupakan situasi yang masih dikepung pandemi global yang mencekam. Ini juga buatan tangan terampil sang nyonya.


Kelezatan masakan Eri mengingatkan saya ucapan Rizal beberapa waktu lalu. "Sebelum membeli bahan-bahan masakan di pasar, dia selalu pamit dan mencium tangan saya," ucapnya setengah berbisik.


Kata kuncinya ternyata cium tangan! Eri boleh-boleh saja jago masak. Tapi bukan itu saja yang menentukan kesedapan hasil kreasinya. Cium tangan bukan sekadar tradisi, tanda berbaktinya seorang istri kepada suami. Cium tangan sebuah ketulusan. Restu suami dibutuhkan dalam urusan apa pun. Maka ketika hati ikhlas saat memasak, niscaya menghasilkan rasa sempurna. Sebab, ketika seorang wanita mengerjakan tugas di dapur dengan gerundelan, bisa dipastikan masakannya bermasalah. Mungkin terlalu asin, gosong, atau hambar.


Maka sering-seringlah mencium tangan suami. Begitu, kan, Mbak Eri? Badaq iye, Hep!

0 views0 comments

Subscribe untuk tetap mendapatkan update dari kami

  • White Facebook Icon

©2020 Copyright Nasional Editor -  Design & Development by DX ProDigital